Mranti adl sebuah desa kecil di salah satu sudut Kabupaten Purworejo.
Dulu mayoritas penduduknya adl petani. Mbah Buyut dan Mbah Kakungku (setelah pensiun dr AD) juga petani. Tapi pada generasi2 selanjutnya, dari 5 orang anak Mbah Kakung, hanya yg bungsu yg tetap bersedia menjalani beratnya hidup jadi petani di negara agraris ini. 4 yg lain, termasuk ibuku sebagai sulung, lebih memilih meninggalkan kampung halamannya nan damai. Seperti halnya mayoritas penduduk desa yg lain, mereka beranggapan nasib baik tak akan datang jika mereka hidup santai melewati hari hari damai di desa,mengandalkan hasil sawah semata. Dan kota besar, terutama Jakarta, bagai magnet raksasa yg menarik mereka berduyun duyun meninggalkan alam nyata menuju alam mimpi.
Sebagian wanita desa seangkatan ibuku yg cukup beruntung mampu bersekolah rata rata memilih sekolah guru alias SPG. Sedangkan ibu, mengikuti saran Mbah Kakung yg berpikiran maju, bersekolah SPK di Yogya. Ternyata memang sudah suratan takdir, krn di Yogyalah ibu bertemu dg mahasiswa FK UGM yg kelak menjadi ayahku.
Demikian hingga ke era milenium ini, Mranti banyak di huni penduduk usia tua yg kesepian krn sepanjang tahun anak-anak mudanya melanglang buana mengadu nasib di kota. Setahun sekali, menjelang lebaran, desapun berubah warna. Di setiap rumah, yg semula berisi 3 atau 4 orang, tiba tiba menjadi berisi 6, 8, atau bahkan 15 orang. Rumah rumah menjadi ramai dgn canda tawa. Di depan rumah, tiba tiba terparkir 1 bahkan 2 mobil. Di sepenjuru desa sepanjang hari akan tampak wajah wajah ndeso yg telah mengota ,menjadi seperti penampilan orang kota:-). 'Balen' adl sebutan utk mereka. Artinya orang yg datang kembali setelah lama pergi. Dan kadang tak lagi sendiri. Di kota mereka bertemu jodoh, dan beranak pinak. Sehingga cucu cicit orang Mranti asli banyak yg tak fasih berbahasa Jawa. Termasuk aku. Dan anak-anakku.
Wednesday, April 30, 2008
Tuesday, April 29, 2008
Purworejo Tanah Air Beta ...
Purworejo adl salah satu kabupaten di wilayah selatan provinsi Jawa Tengah. Ia berbatasan langsung dengan kabupaten Wonosobo dan Magelang di sisi utara, dengan provinsi DIY di sisi timur , dengan kabupaten Kebumen di sisi baratnya. Sementara samudra Hindia menjadi batas selatan, tentu saja legenda Ratu Pantai Selatan begitu lekat dalam kehidupan sebagian penduduknya.
Apa yg terekam dlm memoriku selama 3 dasawarsa terakhir tentang Kota Pensiunan ini (demikian sebagian org menjulukinya)?
Secara fisik nyaris tak banyak perubahan berarti meski tahun demi tahun berlalu, Pemda-DPRD terus berganti personalnya. Tak akan kita temukan gedung perkantoran yang megah mewah, mall yg prestisius, apalagi hotel dgn sekian bintang. Hanya pasar, sederet pertokoan, terminal bis, dan stasiun KA di Kutoarjo yg masih terus setia menjadi pemacu denyut nadi kota.
Pun secara psikhis, tak ada perubahan signifikan seiring hiruk pikuknya arus globalisasi. Purworejo tetaplah adem ayem, tenang, nyaris tanpa gejolak apapun. Alun alun kota seluas 6 hektar (konon terluas di pulau Jawa) sajalah yang di beberapa tahun terakhir mengalami metamorfosa menjadi sentra gaul dan wisata kuliner di malam hari. Tinggal pilih. Pembeli dan penjual ayam panggang, tahu kupat, mi ayam, wedang ronde, gorengan, martabak, dan beragam lainnya memenuhi sekujur trotoar alun alun dgn 2 pohon beringin besar di pusatnya. Ditingkahi semilir sejuk angin malam, dan grapyak semanaknya kawan kerabat membuat obrolan makin gayeng dan hati kian enggan beranjak pulang.
Apa yg terekam dlm memoriku selama 3 dasawarsa terakhir tentang Kota Pensiunan ini (demikian sebagian org menjulukinya)?
Secara fisik nyaris tak banyak perubahan berarti meski tahun demi tahun berlalu, Pemda-DPRD terus berganti personalnya. Tak akan kita temukan gedung perkantoran yang megah mewah, mall yg prestisius, apalagi hotel dgn sekian bintang. Hanya pasar, sederet pertokoan, terminal bis, dan stasiun KA di Kutoarjo yg masih terus setia menjadi pemacu denyut nadi kota.
Pun secara psikhis, tak ada perubahan signifikan seiring hiruk pikuknya arus globalisasi. Purworejo tetaplah adem ayem, tenang, nyaris tanpa gejolak apapun. Alun alun kota seluas 6 hektar (konon terluas di pulau Jawa) sajalah yang di beberapa tahun terakhir mengalami metamorfosa menjadi sentra gaul dan wisata kuliner di malam hari. Tinggal pilih. Pembeli dan penjual ayam panggang, tahu kupat, mi ayam, wedang ronde, gorengan, martabak, dan beragam lainnya memenuhi sekujur trotoar alun alun dgn 2 pohon beringin besar di pusatnya. Ditingkahi semilir sejuk angin malam, dan grapyak semanaknya kawan kerabat membuat obrolan makin gayeng dan hati kian enggan beranjak pulang.
Subscribe to:
Comments (Atom)
